ZAKAT ITU LIFE STYLE

Bisakah zakat diposisikan sebagai “lifestyle”, dan bukan sekedar menggugurkan kewajiban semata? Pertanyaan tersebut menjadi sebuah tantangan, yang kini tengah dilakukan oleh beberapa Lembaga Zakat di Indonesia. Yaitu mengusung budaya zakat secara “gaul” namun tetap “syar’i”.
kini berkembang menjadi sebuah organisasi pengelola zakat yang mencoba mendobrak paradigma masyarakat, dan menorehkan kebanggaan bahwa “zakat itu lifestyle”. Adalah rekan amil LAZDAI Lampung yakni Wahyu Novyan, Chief Executive Officer LMI yang berperan sebagai komandan rejuvenasi (peremajaan) positioning LMI.

 ”Selama ini, kebanyakan masyarakat, khususnya yang berada di Jawa Timur dan Indonesia bagian timur, cenderung memposisikan zakat sebagai sesuatu yang ‘sakral’, ‘kaku’, dan harus ke kyai atau masjid. Bisa dikatakan sangat tradisional. Agak berbeda dengan masyarakat di Jakarta, misalnya, yang lebih mudah menerima hal-hal baru. Kemudian kami mencoba menawarkan konsep zakat yang user-friendly, fasilitas berzakat yang mempermudah para muzakki untuk menunaikan kewajiban mereka, kendati tengah didera kesibukan aktivitas sehari-hari. 

Kami juga mencoba untuk lebih ‘ngepop’ lagi dalam menjalankan aktivitas dakwah zakat kepada masyarakat,” ucap alumnus Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga itu. “Harapan kami adalah tercerahkannya sebanyak mungkin masyarakat seputar syariat berzakat dan derivatnya,” imbuh Wahyu. Wahyu dan para punggawa LMI kemudian menggelar serangkaian marketing communication activity yang “out-of-the box”. Dalam peluncuran program “Gandrung Ramadhan 1430 H” yang lalu, misalnya, LMI mengajak komunitas bikers Harley Davidson Club Indonesia (HDCI)-Surabaya, untuk melakukan pawai di area Kota Pahlawan. 

Tak urung, pawai ini menarik atensi publik dan media massa. “Sebagian orang mungkin kaget, karena punya stigma bahwa komunitas HDCI itu untouchable dan eksklusif, termasuk stigma arogan dan hobi foya-foya. Namun LMI ingin menunjukkan bahwa zakat itu berlaku untuk setiap muslim yang memang memenuhi syarat untuk berzakat. 

Dan bahwa dakwah itu berlaku untuk sebanyak mungkin manusia, tanpa membeda-bedakan golongan. Breakthrough campaign seperti yang kami gelar bersama HDCI itu, sekaligus menjadi sinyalemen bahwa kalau Anda menganggap Harley dan moge-nya adalah lifestyle, maka zakat juga lifestyle,” lanjut Bapak dua anak ini. Karena ini lebih efisien, dan sesuai dengan semangat kami “Zakat itu Lifestyle”. Kan masyarakat kita saat ini juga semakin technology-minded,” ujar Wahyu. Ibarat padi, LMI semakin berisi semakin menunduk, makin dewasa, makin bijaksana. Di usianya yang baru saja genap 14 tahun, LMI pun mencoba semakin peduli kepada masyarakat tak berpunya melalui program-program pemberdayaannya.
Share on Google Plus

About lazdai lampung

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar