The Magic of Infaq, Keajaiban Infak yang Saya Rasakan

Sumber gambar : www.iconfinder.com
Oleh: Farida Miaty

Selamat pagi, kawan. Semoga hari ini untaian waktu kita diisi dengan aktivitas yang bermanfaat.

Saya ingin bercerita tentang sebuah kata: infak. Sebuah kata yang baru saja benar-benar menginspirasi saya.

Selama ini, berkali kali, bahkan mungkin sudah beribu kali, saya mendengarkan kalimat yang menganjurkan untuk tidak takut bersedekah (yang banyak), walaupun kondisi kita dalam keterbatasan. Karena, katanya, apa yang kita sedekahkan itu akan kembali kepada kita berkali kali lipat jumlahnya, bahkan mungkin kualitasnya.

Tapi, jujur, merealisasikan teori itu sungguh tidak mudah. Apalagi ketika menyadari bahwa diri ini adalah manusia biasa, yang punya banyak keinginan, yang punya banyak hal untuk dipenuhi dengan bantuan uang.

Walaupun sebenarnya uang itu ditujukan untuk membeli barang barang yang bermanfaat seperti buku bacaan. Pastinya, dalih itu terucap di dalam hati bahkan ucapan. Walau ada juga yang mungkin sekedar menggunakannya untuk membeli baju-baju model terbaru (atau baju-baju mahal yang diskonan, bagi yang uangnya memang terbatas sangat).

Itulah tantantangannya. Seringkali nafsu itu lebih merajai dari pada nurani. Untuk membeli baju yang harganya Rp 70 ribu ikhlas ikhlas saja, tapi untuk berinfaq Rp 1.000 rupiah saja terasa berat. Untuk membeli buku seharga ratusan ribu, apalagi, betapa leganya bisa menggunakan uang untuk memiliki buku bermanfaat itu. tapi ternyata, berinfaq sebesar Rp 5.000 rupiah saja sangat berat.

Alkisah, suatu hari di beberapa waktu yang lalu, saya mencoba melawan nafsu saya. Selain menggunakannya untuk hal-hal bermanfaat, maka dengan keras kucoba merelakannya keluar untuk sekedar berinfak, lebih dari biasanya yang kadang bahkan hanya kukeluarkan sebesar Rp 500 rupiah saja. Astaghfirullah…

Maka, saya bertekad. Dan meyakini sepenuh hati, bahwa Allah Mahatahu dan tidak akan meninggalkan hamba-Nya dalam kekurangan. Sekali, akhirnya saya berhasil melawan nafsu saya. Dua kali, alhamdulillah…walau berkurang dari yang pertama, tapi cukup lebih dari yang biasa.

Well, saya akan mencobanya lagi nanti. Dan tetap dengan keyakinan, bahwa Allah Mahatahu dan Allah tak pernah mengingkari janji-Nya.

Waktu berputar seperti biasa. Perasaan menyesal itu mungkin akan merajai jika saja tak saya mantapkan keyakinan itu. Hingga suatu hari tiba…

Ada seseorang, yang  saya kenal di masa lalu, bahkan hampir hilang dari memori saya, mengabarkan bahwa berkesempatan mengikuti Seminar bertaraf international: gratis. Alhamdulillah…

Lalu, beberapa hari berlalu lagi hingga habis waktuku untuk memperoleh kesempatan itu. Aku masih penuh dengan agenda- agenda lain yang memerlukan diri saya. Tapi, saya tak menyerah. Kesempatan itu telah datang, maka saya juga berhak untuk memperjuangkannya.

Well,  akhirnya saya  mendapatkan kesempatan kedua, satu hari saya  diberi waktu. Dan, that’s the moment !

Mungkin bagi sebagian orang, itu adalah hal biasa saja, tapi bagi saya, itu adalah hal luar biasa. That’s a magic. Saya menemukan rangkaian nama dan kata-kata saya dalam sebuah buku setebal 5 cm dan segera akan dimiliki puluhan manusia nanti, tak lama lagi, setelah itu semua.

Finally, saya akan segera memenuhi salah satu target saya : memiliki buku bertulis nama saya.



Alhamdulillah…semoga semuanya berjalan dengan lancar.

Share on Google Plus

About lazdai lampung

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar