Romantika Kemanusiaan Kurban

ANTARA FOTO/Ampelsa/foc/16.
Saat Hari Raya Idul Adha, jutaan keluarga miskin yang masih ada di negeri ini bisa menikmati gurihnya rasa daging. Kurban yang diterima merupakan sambungan tali kasih dari shohibul kurban kepada fakir miskin. Sebuah romantika kemanusiaan yang diajarkan dalam agama ini.

Sebagai ibadah yang mengandung unsur hablun minallah dan hablun minannas, kurban merupakan ibadah yang mengambil hikmah dari kisah Nabi Ibrahim AS. Pengorbanan Ibrahim yang hendak menyembelih putranya, Ismail AS, kemudian digantikan Allah SWT dengan seekor kambing gibas putih bertanduk panjang.

"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan, Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian'." (QS as-Shafat: 103-108).

Pada sejarahnya, kurban merupakan kisah-kasih antara Ismail, Ibrahim, dan Tuhannya. Kurban yang berasal dari istilah qaruba atau pendekatan diri mengukuhkan bahwa prosesi ini merupakan upaya seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ikhtiar ini pun dibalas dengan kasih sayang Allah  berupa penggantian Ismail dengan seekor kambing gibas.

Setelah menunggu puluhan tahun lamanya, Ibrahim dikaruniakan anak yang tampan lagi saleh, Ismail. Allah SWT menguji kesetiaan Ibrahim. Adakah dia akan berpaling setelah mendapat nikmat menjadi ayah dari seorang putra? Allah pun memberi pesan kepada Ibrahim lewat mimpi bahwa Ismail harus dikurbankan. Ibrahim lantas berkomunikasi dengan ananda kesayangan bahwa dia bermimpi diperintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya itu. Alih-alih mendapat ketakutan Ismail, Ibrahim mendapatkan jawaban mengejutkan.

"Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah, kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."(ash-Shaffat: 102). Mendengar keikhlasan anaknya, Ibrahim pun luluh. Dia lantas membawanya untuk pergi ke tempat penyembelihan. Setelah melempar setan dengan batu di tiga tempat, jumratul ula, jumratul wusta, dan jumratul aqabah, Ibrahim sampai mengantarkan putranya itu ke tempat yang dituju.

Ibrahim kemudian merebahkan Ismail yang sudah mengenakan kain gamis putih. Ismail  berwasiat kepada ayahnya. Hai ayah, sesungguhnya aku tidak memiliki pakaian untuk kain kafanku selain dari yang kukenakan ini. Maka, lepaskanlah kain ini agar engkau dapat mengafaniku kelak. Saat hendak menanggalkan baju gamis putranya, Ibrahim lalu menoleh ke belakang. Dia melihat seekor kambing gibas yang gemuk untuk dikurbankan sebagai pengganti Ismail.

Romantisme prosesi kurban berlanjut pada masa Rasulullah. Kurban menjadi sebuah hajat untuk merayakan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Ketika umat Islam bergotong royong untuk menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada fakir miskin.

"… Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu agar kamu bersyukur." (QS al-Hajj: 36).

Ketika berkurban, Rasulullah melakukan dengan kedua tangannya sendiri. Tercatat Rasulullah setiap tahun berkurban dua ekor kambing gibas berwarna putih dan hitam. Seusai haji wada, Rasulullah malah berkurban 100 ekor unta. Sebanyak 67 di antaranya disembelih sendiri. Daging kurban itu kemudian dibagikan kepada para sahabat dan fakir miskin.

"Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Rasulullah SAW menugaskan saya mengurus kurbannya dan membagi-bagikan daging, kulit, dan bagian-bagian lainnya kepada fakir miskin dan saya tidak boleh memberi apa pun dari hewan kurban itu kepada penyembelihnya."

Share on Google Plus

About lazdai lampung

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar